Iklan Google AdSense

Transparansi? SPMB 2025 Makassar Diduga Jadi Ladang Main Mata

Pandawanews, Makassar—Jeritan pilu ribuan calon siswa berprestasi kembali menggema di Kota Makassar. Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) yang digadang-gadang sebagai sistem transparan, justru kembali menyisakan luka yang dalam.

Iklan Google AdSense

Meski berbekal nilai tinggi dan deretan prestasi akademik maupun non-akademik, banyak siswa harus merelakan impian mereka kandas di tengah jalan. Bukan karena mereka tak layak. Tapi karena mereka tak punya satu hal: “orang dalam” alias ordal.

SPMB yang kini mengadopsi sistem “jalur satu pintu”, awalnya dipuji sebagai langkah maju dalam menjamin keadilan. Namun realitanya? Sistem ini justru berubah menjadi palu godam yang menghantam para siswa berprestasi yang tak punya dekkeng.

Iklan Google AdSense

“Anak saya punya nilai sempurna, sertifikat lomba tingkat nasional. Tapi tetap tidak lolos. Sedangkan ada yang nilainya di bawah, malah tembus karena katanya anak pejabat,” ujar salah satu orang tua siswa yang meminta namanya tidak disebutkan. Wajahnya menyiratkan kecewa yang tak bisa ditutupi.

Lanjut sumber tersebut, praktik semacam ini bukan hal baru. “Tiap tahun, tetap ada jalur belakang. Hanya dibungkus lebih rapi. Tahun ini bahkan lebih parah, seakan sistem satu pintu jadi tameng agar tak bisa digugat,” ungkapnya.

Diketahui, sejumlah sekolah favorit di Makassar seperti SMPN 3, SMPN 6, dan SMPN 8, SMPN 7 disebut-sebut menjadi “sasaran utama” permainan ini. Banyak nama-nama yang diduga masuk melalui jalur “khusus” yang tak tercatat di sistem resmi.

“Yang punya akses bisa main langsung. Entah lewat kedekatan birokrat, pejabat, atau tokoh tertentu. Kita yang rakyat biasa, hanya bisa pasrah,” tambah dia.

Sementara itu, saat Kabid Dinas Pendidikan Kota Makassar dikonfirmasi melalui WhatsApp pada Kamis (24/07/2025), pesan hanya centang dua namun tak kunjung dibalas. Dihubungi via telepon pun, tak ada respons.

Ada apa sebenarnya? Apakah sistem ini benar-benar transparan, atau justru telah menjadi ruang gelap yang menutupi ketidakadilan?

Fenomena ini bukan sekadar kasus pendidikan, tapi refleksi dari sistem yang belum sembuh dari budaya titipan. Tahun 2025, Memperlihatkan bahwa ketika prestasi tak cukup dan keadilan dikalahkan oleh akses, maka yang muncul adalah generasi yang tumbuh dalam ketimpangan sejak dini. Waspadalah: sistem seperti ini tak hanya merampas hak, tapi menanam bom waktu sosial.(*)

 

 

Iklan Bersponsor Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *